Rabu, 27 Desember 2017

Salam Rindu untuk-Mu ya Rasulullah

Salam Rindu untuk-Mu ya Rasulullah

Hari hari berlalu
Siang pun telah berganti malam
Berabad-abad sudah berlalu
namun namamu masih melekat di hatiku
tak pernah aku bertemu atau berjumpa denganmu
tak pernah aku melihat langsung dakwahmu
namun sinar cahaya itu mampu menebus zaman dan ruang
menembus perbedaan di antara seluruh umat manusia
cahaya itu tak pernah redup sampai akhir zaman
Wahai penyejuk qalbu...!
Yang singgasananya tak lupuk di makan waktu
Kiranya engkau dengar
Senandung rindu yang mengalun indah
Diataas penjuru bumi tuhanmu

Ya Nabiyallah
begitu agung namamu
bergetar hati ini , menangis , rindu bertemu dengan mu
rindu pada suri tauladan yang kau berikan
rindu pada kesederhanaan dan kepedulianmu
rindu pada kedamaian yang kau ciptakan

Ya Nabiyallah
Betapa indah akhlaqmu
Bagai cahaya keindahan al-Quran
Rindu kami padamu sepanjang waktu
Engkaulah cermin bagi hidup kami
Engkaulah petunjuk perjalanan kami
Engkaulah mata air hati dan pikiran kami

Wahai teladan yang tak pernah padam
Betapa mulia akhalkmu
bagai cahaya kemuliaan Al-Qur’an
Besarnya perjuanganmu menegakkan agama
Agungnya cintamu menyayangi sesama
Haru senyummu padah Wajah Dunia

Wahai rembulan yang sinarnya tak pernah redup...!
Betapa suci akhlaqmu
Bagai cahaya kesucian al-Quran
Hadirkanlah cintamu dalam ibadah kami
Ajarkanlah ketabahanmu dalam doa kami 


Rabu, 20 Desember 2017

Anak Adalah Investasi Dunia-Akhirat

Anak Adalah Investasi Dunia-Akhirat



ilma.nafia.mubarok@gmail.com

Dalam sudut pandang yang dibangun oleh agama khususnya dalam hal ini adalah agama islam, anak merupakan makhluk yang dhaif dan mulia, yang keberadaannya adalah kewenangan dari kehendak Allah SWT dengan melalui proses penciptaan. Oleh karena anak mempunyai kehidupan yang mulia dalam pandangan agama islam, maka anak harus diperlakukan secara manusiawi seperti dioberi nafkah baik lahir maupun batin, sehingga kelak anak tersebut tumbuh menjadi anak yang berakhlak mulia seperti dapat bertanggung jawab dalam mensosialisasikan dirinya untuk mencapai kebutuhan hidupnya dimasa mendatang. Dalam pengertian Islam,anak adalah titipan Allah SWT kepada kedua orang tua, masyarakat bangsa dan negara yang kelak akan memakmurkan dunia sebagai rahmatan lila’lamin dan sebagai pewaris ajaran islam pengertian ini mengandung arti bahwa setiap anak yang dilahirkan harus diakui, diyakini, dan diamankan sebagai implementasi amalan yang diterima oleh akan dari orang tua, masyarakat , bangsa dan negara.

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Anak Soleh yang Mendoakannya

Jika kita punya anak soleh yang mendoakan kita, insya Allah kita akan mendapat pahala juga karena kita telah berjasa mendidik mereka sehingga jadi anak yang saleh.
Oleh karena itu jika kita diamanahi anak oleh Allah, hendaknya kita didik mereka sebaik mungkin hingga jadi anak yang saleh. Seorang ibu jangan ragu untuk meninggalkan pekerjaannya di kantor agar bisa fokus mendidik anaknya.
Lalu bagaimana jika kita tidak punya anak kandung?
Di situ tidak dijelaskan apakah anak saleh itu anak kandung atau bukan. Jadi jika kita memelihara anak yatim pun kita tetap akan dapat pahala jika mereka jadi anak yang saleh dan mendoakan kita.
Dari Abu Ummah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang membelai kepala anak yatim karena Allah SWT, maka baginya kebaikan yang banyak daripada setiap rambut yang diusap. Dan barang siapa yang berbuat baik kepada anak yatim perempuan dan lelaki, maka aku dan dia akan berada di syurga seperti ini, Rasulullah SAW mengisyaratkan merenggangkan antara jari telunjuk dan jari tengahnya.” (Hadis riwayat Ahmad)
Dari situ jelas bahwa orang yang memelihara anak yatim dengan penuh kasih sayang insya Allah akan masuk surga. Surganya pun bukan surga tingkat rendah. Tapi surga tingkat tinggi karena berada di dekat Nabi Muhammad SAW laksana jari telunjuk dengan jari tengah.
Paling tidak jika ada anak dari saudara kita atau sepupu kita, santuni mereka. Bantu mereka.
Menyumbang ke keluarga miskin yang ada anaknya pun atau panti asuhan insya Allah bisa mendapatkan pahala.

Jumat, 08 Desember 2017

Bersyukur

*BERSYUKUR*


Aaah, zaman sekarang, anak-anak orang kaya yang kadang gak bersyukur langsung bisa jawab aku mau kuliah disini dan disana, merasa aman bisa kuliah dimana aja karena orangtuanya banyak uang. sering denger juga dulu ada temen yang bilang, gue entar masuk kedokteran. Kalau enggak lulus, bisa lewat jalur belakang. *What?* mentang-mentang elu orang kaya?
Disisi lain, masih banyak anak yang gak bisa kuliah atau debar-debarkarena gak punya uang. ya bersyukurlah ya yang bisa kuliah. alhamdulillah.

Untuk adik-adik, 
Nanti pas dikostan jauh dari orangtua, kalian entar akan ngerasain rasanya kangen orangtua, pingin nelfon tapi pulsa gak ada, cucian banyak tapi panggilan organisasi datang terus, suruh rapat ini itu, saat mie didalam lemari tinggal sebungkus sedangkan uang bulanan tinggal ekstraknya, atau tugas kuliah yang numpuk, atau ketemu dosen yang bawaannya kaya bawa bawa materi dongeng buat pingin tidur. entar syukuri aja ya. jangabn kayak kakak atau temen-temen yang lain yang sering ngeluh atau minimal ngumpatin keadaan ini itu didalam hati. lupa bersyukur,,,
Entar  jangan cuma pulang untuk makan, nonton bioskop hura-hura, ngabisin uang orangtua, kuliah tidur, dll. boleh, asal sewajarnya.
Jangan langsung galau karena pacar, gak ada gunanya. belum tentu jadi suami istrimu, jangan galau gak punya uang, bisa danusan atau usaha, jangan, jangan, dan jangan kebanyakan galaunya. Bukan saatnya. #kuliahbukanFTV

Waah, kuliah gak sebecanda itu...
Banyak anak gak bisa kuliah, lah kitanya nyantai aja padahal udah banyak disubsidi rakyat untuk bisa lanjutin sekolah. Untuk adik-adik SMA, semangat menikmati masa sekolahnya, siapin diri untuk ngelakuin hal baik yang akan kalian lakukan dimasa depan... *fighting!

Senin, 23 Oktober 2017

Misteri KEHIDUPAN

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

*Misteri KEHIDUPAN*

~ Saat kita memberi » 
   Kita akan menerima.

~ Saat kita menolong orang lain » pada saat yang sama kita sedang menolong diri sendiri.

~ Apa yang kita lakukan untuk orang lain, sebenarnya kita sedang melakukan untuk kita sendiri.
  • Inilah rahasia kehidupan yang tersembunyi bagi banyak orang. 
>> bukan karena mereka tidak melihat kebenaran ini, tapi karena mereka tidak mempercayainya

Karena itu banyak orang yang lebih bahagia menerima daripada memberi, lebih suka ditolong daripada menolong. Hidup hanya berpusat hanya kepada diri sendiri.

Ada ilustri menarik :

Seorang buta sedang berjalan dengan tongkatnya pada malam hari.

Tangan kanannya memegang tongkat sementara tangn kiriny memegng lampu.

Pemandangan ini cukup mengherankan bagi seorang pria yang kebetulan melihatnya.

Supaya tidak penasaran, pria itu bertanya, "kenapa anda berjalan membwa lampu?"

Orang buta itu menjawab : "sebagai penerangan."

Dengan heran pria itu bertanya lagi : " Tapii,, bukankah anda buta dan tetap tidak bisa melihat jalan meski ada lampu penerangan ?"

Orang buta itu tersenyum sambil menjawab : "Meski saya tidak bisa melihat, orang lain bisa melihatnya."

"Selain membuat jalanan menjadi terang, hal ini juga menghindarkan orang lain untuk tidak menabrak saya." 

>> disaat kita melakukan sesuatu untuk orang lain, sebenarnya kita sedang melakukan sesuatu untuk diri kita sendiri.

Kita diingatkan untuk tidak jemu-jemu berbuat baik.

Ini adalah sebuah rahasia kehidupan untuk hidup yang penuh berkat., berkelimpahan dan bahagia.

"APA YANG KITA LAKUKAN UNTUK ORANG LAIN, SUATU SAAT PASTI AKAN KEMBALI" :)


Kamis, 17 Agustus 2017

Pembersih Muka, Pemutih Wajah


Publikasi 15/10/2017 21:52 WIB


eramuslim - Wanita mana sih yang tidak kepingin punya wajah mulus, segar, lembab serta cantik dan
putih seperti yang banyak ditawarkan oleh iklan-iklan pembersih-pemutih wajah di televisi?
Saya percaya, anda ada diantara mereka. Pun, juga saya.

Sejak saya mulai ‘aware’ dengan penampilan, saya pun tergoda dengan berbagai produk pembersih
wajah, baik yang konvensional/dua langkah (susu pembersih) maupun yang instan/satu langkah
(sabun wajah). Apalagi mereka banyak menawarkan kelebihan: membuat wajah lebih lembut dan halus,
lebih putih, tidak membuat kulit menjadi kering dan kaku, dan sebagainya. Setelah saya bekerja dan
banyak berada di ruang ber-AC dan di lapangan, membersihkan wajah menjadi suatu hal wajib bagi saya.

Maka saya mulai mencoba-coba dan melirik berbagai pembersih wajah dengan berbagai
kualifikasi tersebut. Yang paling banyak adalah sabun muka yang bisa digunakan secara instan
sekalian mandi karena saya bukan tipe orang yang sabar berlama-lama membersihkan wajah
sepulang dari bekerja atau bepergian.

Pernah saya beberapa waktu menggunakan sabun wajah yang menjamin kulit akan menjadi lebih putih
dalam enam minggu. Namun ternyata tak ada perubahan apapapun pada warna kulit wajah saya setelah
saya berbulan-bulan memakainya. Padahal setiap digunakan sabun muka tersebut memberikan rasa perih
dan panas. Akhirnya saya menghentikan penggunaan barang tersebut.

Pernah juga saya menggunakan pembersih yang katanya mengandung scrub dan sanggup mengangkat sel kulit
mati, namun malahan membuat tumbuh bintik-bintik berair di kulit wajah saya.

Apapun jenis pembersih yang saya gunakan, dengan susu pembersih ataupun sabun wajah, saya selalu
mengakhiri dengan air. Ya, air tanah atau air pam, dingin atau hangat. Rasanya tidak afdhal jika
tidak memberikan finishing touch berupa air. Ada yang terasa lengket jika tidak dibasuh kembali
dengan air, sisa-sisa pembersih itu. Sekalipun sudah diberi penyegar. Dan memang, setelah dibasuh
dengan air, kesegarannya lebih terasa. Wajah pun tampak lebih berseri dan lebih terang.

Jika saya amati, wajah yang terasa lebih segar, tampak lebih berseri dan terang ini buku hanya
saya rasakan setelah menggunakan pembersih, tetapi setiap kali saya membasuh wajah dengan baik.
Baik disini adalah dengan menggosok, mengusap dan membasuh berulang, sekitar tiga kali.
Bukan sekedar mengusapnya atau membasahi dengan air.

Saat-saat itu adalah saat saya berwudhu dengan khusyuk dan tuma’ninah (tenang).
Pertama-tama mencuci telapak tangan dan mengucap basmalah, dilanjutkan dengan berkumur dan
menghirup air melalui hidung, diteruskan membasuh wajah. Tentu saja semuanya tidak dilakukan
dengan asal-asalan atau asal basah. Tetapi dengan sepenuh perasaan dan keyakinan bahwa
usapan demi usapan, gerakan demi gerakan yang dilakukan dapat melunturkan kontoran dan daki
di telapak tangan, menghapus semua kotoran di dalam hidung, melarutkan sisa-sia makanan
dalam mulut serta mengangkat minyak dan kulit mati dari wajah.

Selama ini, pada saat berwudhu, saya menggosok wajah dengan gerakan massage, untuk membersihkan
sisa-sisa minyak dan daki yang tertinggal, juga sekaligus mengendorkan urat dan melancarkan
aliran darah serta merangsang syaraf. Barangkali inilah yang menyebabkan sehabis berwudhu
wajah terasa segar dan berseri.

***

Wudhu, selain merupakan kewajiban, juga memberikan manfaat yang banyak secara fisik. Hal ini bisa
dipahami dengan ilmu dan logika. Seorang muslim dan muslimah, rata-rata berwudhu lima kali sehari.
Efek logisnya, wudhu akan dapat membersihkan minimal anggota tubuh yang banyak/lebih mudah kotor
karena tidak tertutup baju atau banyak digunakan beraktifitas seperti wajah, tangan, kaki, mulut,
hidung.

Dan ketika membasuh anggota wudhu, maka basuhan tersebut akan memberikan rangsangan terhadap
syaraf-syaraf di anggota wudhu yang dibasuh. Ketika kita membasuh muka dan menggosoknya,
maka pada saat itu kita meluruhkan kotoran-kotoran di muka kita sekaligus merangsang syaraf
pada wajah. Hal ini akan berakibat wajah bersih, segar, berseri dan juga kencang.

Ketika kita berkumur (lebih bagus lagi menyikat gigi) ketika berwudhu, hal ini akan membersihkan gigi
dan mulut kita. Hingga gigi kita tak gampang sakit dan mengurangi bau mulut. Bukankah ini juga
bagian dari kecantikan? Ketika kita menghirup air ke dalam hidung, tentu saja air tersebut akan
meluruhkan kotoran dan merangsang saraf hidung dan menjaga kesehatannya.

Ketika membasuh kaki. Dan menggosoknya, maka kita sekaligus merangsang saraf di telapak kaki.
Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa telapak kaki merupakan pusat saraf yang jika mendapat rangsangan
bisa memberikan perbaikan dan menyehatkan organ tubuh lainnya. Di telapak kaki juga terdapat
saraf yang berhubungan dengan wajah, sehingga merangsang saraf kaki insyaAllah akan ikut
menjaga wajah yang segar, tidak cepat tua dan tentu saja cantik.

Itulah wudhu, yang dengannya Allah menyatakan bahwa air wudhu yang mengalir dari sela jari-jari
akan menggugurkan dosa-dosa. Lebih dari itu, bahkan Allah mengatakan bahwa bekas wudhu itu
akan memancarkan sinar di wajah pemiliknya. Maka, selain berpahala, wudhu menjadikan wajah kita
semakin berseri, bukan saja karena secara fisik ia mengangkat semua kotoran, tetap karena
ia juga menjadi penyebab terpancarnya inner beauty: jiwa yang tenang dalam ketaatan, dan
jiwa yang terbersihkan dari dosa-dosa.

***

Semestinya saya bersyukur, meskipun berkulit hitam, Allah mengaruniai saya kulit yang sehat dan bagus.
Saya nyaris tak pernah mengalami problema iritasi kulit atau jerawat sebagaimana yang
diresahkan wanita-wanita pada umumnya. Dengan demikian, semestinya, wudhu yang minimal
lima kali sehari itu suah sangat cukup untuk menghapus semua kotoran yang bersarang di wajah dan
anggotanya, sekaligus membuat wajah nampak segar, berseri dan cemerlang. Dan membersihkan wajah
dengan bahan-bahan kimia dan alat kosmetik, cukuplah menjadi pelengkap saja. Bukankah Allah telah
menyediakan pembersih yang paling sempurna, yang mampu menghapus segala kotoran dan noda?
Jiwa dan raga? (ilma.nafia.mubarok@gmail.com)



MAHASANTRI

Foto bersama dengan jajaran Rektor dan dosen UNIDA Gontor Tak asing dengan kata “Mahasantri” bukan? Ya, Mahasiswa Plus Santri. Ma...